Alamat :
Jalan Sunter Permai Raya, Jakarta utara 14340 Indonesia
Email :
rspiss.info@gmail.com
No. Telepon :
(021) 6506559
TALKSHOW@radiokesehatan

TALKSHOW@radiokesehatan

Jakarta, 17 Mei 2019 - RSPI Sulianti Saroso, sebagai Rumah Sakit Rujukan Nasional Penyakit Infeksi menjadi Nara Sumber pada acara TALKSHOW Sehat Wicara dengan tema "Kenali dan Cegah Monkeypox" Talkshow yang dilakukan di Radio Kesehatan Kementerian Kesehatan tersebut dilaksanakan pada hari Jumat, 17 Mei 2019 Jam 09:00 sampai Jam 10 WIB dengan Narasumber dr. Nur Aliza, Sp.A yang merupakan salah satu Dokter Spesialis Anak di RSPI Sulianti Saroso Jakarta Kasus Monkeypox yang terjadi di Singapura saat ini telah ramai dibahas di Indonesia. Penyakit ini memiliki sejarah kejadian luar biasa di dunia dimana pada tahun 1970 telah terjadi kejadian luar biasa (KLB) pada manusia untuk pertama kali di Republik Demokratik Kongo. Selanjutnya pada tahun 2003 dilaporkan kasus pertama di luar Afrika yaitu di Amerika Serikat, hal tersebut diakibatkan adanya riwayat kontak manusia dengan binatang peliharaan prairie dog yang terinfeksi oleh tikus Afrika yang masuk ke Amerika. Tahun 2017 terjadi kejadian luar biasa (KLB) di Nigeria setelah hampir 40 tahun tidak ditemukan kasus baru dan setelah KLB tersebut, ditemukan pula beberapa kasus lain di luar Afrika seperti di Inggris (2018) dan yang terbaru di Singapura WHO menulis, monkeypox atau cacar monyet adalah penyakit yang disebabkan virus (infeksi virus monkeypox) genus orthopoxvirus yang ditularkan ke manusia dari hewan. Virus monkeypox sebagian besar ditularkan kepada orang-orang dari binatang liar seperti binatang pengerat dan primata akibat kontak langsung dengan darah, cairan tubuh, atau lesi kulit atau mukosa pada hewan yang terinfeksi tersebut dan sejauh ini penularan langsung dari manusia ke manusia masih perlu pembuktian lanjut. Ketika menyerang manusia, virus monkeypox ini akan menyebabkan demam, lemas, sakit kepala dan pegal-pegal selama 2-3 hari kemudian akan muncul kemerahan di kulit (ruam) yang akan berkembang menyerupai cacar air tapi berisi cairan putih yang akan mengering dalam 10 hari dan menetap hingga 2 minggu, tapi tak separah cacar yang umumnya terjadi. Masa inkubasi (interval dari infeksi sampai timbulnya gejala) Monkeypox biasanya 6–16 hari, tetapi dapat berkisar dari 5 – 21 hari, ruam pada kulit muncul pada wajah kemudian menyebar ke bagian tubuh lainnya. Ruam ini berkembang mulai dari bintik merah seperti cacar (makulopapula), lepuh berisi cairan bening, lepuh berisi nanah, kemudian mengeras. Kasus kematian bervariasi tetapi kurang dari 10% kasus yang dilaporkan, sebagian besar di antaranya adalah anak-anak. Virus Monkeyfox tersebar terutama di bagian Afrika tengah dan barat, yang merupakan daerah hutan hujan tropis Seseorang yang memiliki sistem imun tubuh rendah kemungkinan akan lebih mudah tertular virus cacar monyet dibandingkan dengan yang sistem imunnya baik. Monkeypox hanya dapat didiagnosis secara pasti di laboratorium khusus dengan sejumlah tes yang berbeda, jika seseorang mengalami kontak atau ada riwayat perjalanan ke daerah endemis monkeypox sebaiknya segera berkonsultasi ke dokter saat merasakan gejala awal yaitu demam, sakit kepala, dan pegal agar dapat diperiksa lebih lanjut. Tidak ada pengobatan khusus atau vaksinasi yang tersedia untuk infeksi virus Monkeypox. Pengobatan simptomatik dan suportif dapat diberikan untuk meringankan keluhan yang muncul Rantai penularan penyakit ini diapat dihentikan dengan melakukan karantina pada mereka yang sempat melakukan kontak dekat dengan penderita dengan Prosedur mengisolasi pasien hingga melewati masa infeksius penyakit untuk mencegah penularan penyakit Saat ini di pelabuhan & bandara sudah ada tim Kantor Kesehatan Pelabuhan yang menyeleksi penumpang masuk dengan scan thermal, jika ada laporan penumpang sakit dan Berpotensi menular dari kapten kapal/pesawat mereka akan mengambil pasien dan diisolasi. Cara pencegahan penyakit cacar monyet atau Monkeypox dapat dilakukan dengan : - Mengurangi risiko infeksi pada Manusia - Mengontrol infeksi selama masa perawatan - Mencegah ekspansi monkeypox melalui pembatasan perdagangan hewan Hingga kini kasus monkeypox belum ditemukan di Indonesia dan penularan dari manusia ke manusia juga masih memerlukan pembuktian lanjut. Namun masyarakat tetap harus waspada khususnya yang memiliki riwayat perjalanan ke Afrika Tengah atau Barat dan di sana memiliki kontak dengan penderita atau binatang yang menderita monkeypox. JIka timbul gejaa segera berkonsultasi dengan dokter. Dan yang terpenting adalah selalu menjaga kebersihan dengan cuci tangan Berdasarkan keterangan dari Direktorat Jenderal (Dirjen) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan (kemenkes), hingga kini penyakit monkeypox belum ditemukan di Indonesia. Namun kita dihimbau, terutama bagi yang baru kembali dari wilayah terjangkit monkeypox, agar segera memeriksakan diri bila mengalami gejala-gejala penyakit ini.