Alamat :
Jalan Sunter Permai Raya, Jakarta utara 14340 Indonesia
Email :
rspiss.info@gmail.com
No. Telepon :
(021) 6506559
Mengenal Osteoporosis pada Usia Lanjut

Mengenal Osteoporosis pada Usia Lanjut

Usia lanjut  seharusnya tidak menghalangi seseorang untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Beberapa hal mungkin terjadi dan tanpa disadari oleh yang bersangkutan tiba-tiba mobilisasi diri menjadi terhambat. Oleh karena itu penting untuk lebih mengenal beberapa kondisi yang dapat menjadi penyebab gangguan aktivitas pada saat kita memasuki usia lanjut, antara lain kejadian osteoporosis.

Osteoporosis ... apakah itu ?

Osteoporosis merupakan kelainan tulang yang ditandai dengan menurunnya kekuatan tulang sehingga kemungkinan seseorang terkena risiko fraktur (retak atau patah tulang) jadi meningkat. Biasanya dikenal dengan istilah “ keropos tulang .

Apakah penyebab terjadinya ...?

Biasanya berkaitan dengan usia, postmenopause, proses penuaan, gangguan mobilisasi  (keterbatasan gerak dalam jangka waktu yang lama), pemakaian obat-obatan steroid yang lama dan adanya gangguan hormonal.

Perlu diingat, Usia Lanjut merupakan faktor risiko terbesar untuk terkena penyakit osteoporosis.

Risiko selanjutnya meliputi: jenis kelamin perempuan, berat badan kurang, gaya hidup yang tidak aktif, kekurangan kalsium, perokok, peminum alkohol dan mengkonsumsi obat-obat yang mengandung steroid dalam jangka waktu yang lama.

Bagaimana gejalanya ...?

  • Timbul retak/patah tulang pada seseorang (Ingat...telah disebutkan sebelumnya bahwa osteoporosis adalah penyakit yang sulit terdeteksi di fase awal).
  • Nyeri lokal dan perubahan bentuk pada area retak/patah tulang.
  • Dapat terjadi retak/patah tulang belakang, tulang bonggol paha, tulang lengan bawah.
  • Nyeri punggung, baik akut maupun kronis, pada retak/patah tulang belakang.
  • Perubahan bentuk tubuh pada tulang belakang, seperti bungkuk.

Para penderita osteoporosis akan mengalami keterbatasan dalam melakukan aktivitas fungsionalnya. Awalnya keterbatasan terjadi karena muncul nyeri hebat sehingga membuat kesulitan mobilisasi. Pada tahapan lanjut dimana keterbatasan gerak terjadi maka terdeteksi berkurangnya tinggi badan, nyeri punggung kronis, kesulitan mobilisasi hingga kesulitan berjalan dan dapat terjadi sesak karena postur bungkuk.

Penderita osteoporosis dengan retak/patah tulang paha akan sangat kesulitan untuk fungsi mobilisasinya, dan membutuhkan proses rehabilitasi serta penggunaan alat bantu berjalan. Keadaan ini yang membuat kemandirian penderita menjadi berkurang dalam aktivitas kegiatan sehari-hari (AKS)

Penderita osteoporosis dengan retak/patah tulang lengan bawah biasanya dapat sembuh, namun pada beberapa penderita dapat mengalami nyeri kronis, kelainan bentuk lengan bawah dan keterbatasan gerak fungsi anggota gerak tubuh bagian atas dalam melakukan aktivitas sehari-hari.

Apa saja yang diperlukan untuk mengetahui kejadian osteoporosis ..?

Diperlukan pemeriksaan lanjutan untuk mendukung penegakan diagnosis osteoporosis berupa pengukuran kepadatan tulang sebagai standar untuk menilai risiko, diagnosis dan observasi pada penderita. Selain itu diperlukan rontgen hingga USG untuk menilai retak/patah tulang yang terjadi. Pemeriksaan kalsium dan vitamin D dalam darah juga dapat dilakukan.

Bagaimana tahapan rehabilitasi bagi penderita osteoporosis .. ?

Tahapan rehabilitasi:

  • Cegah retak/patah tulang berulang
  • Mengurangi nyeri, gejala hingga perubahan bentuk punggung
  • Mengoptimalkan fungsi fisik dan kemandirian
  • Stabilisasi tulang dengan penggunaan korset/brace
  • Meningkatkan massa tulang melalui aktivitas kontraksi otot
  • Menjaga asupan makanan (Diet makanan tinggi kalsium (produk susu dan olahannya)
  • Stop merokok.
  • Pemberian Kalsium: 1200-1500mg/hari, Vitamin D 800-1000IU/hari & obat osteoporosis lainnya.

Program rehabilitasi osteoporosis sebaiknya dimulai jauh sebelum terjadi retak/patah tulang. Dapat dicegah dengan evaluasi kondisi rumah penderita untuk memastikan keamanan dan mengurangi risiko jatuh.

Latihan yang diberikan berguna untuk meningkatkan kontraksi otot yang memunculkan tekanan dan tarikan pada tulang, sehingga aktivitas tulang tetap terjaga dan memberikan stimulasi sel-sel tulang untuk selalu memproduksi dan mengisi massa tulang. Latihan sebaiknya diberikan rutin 3-5 kali sehari berupa latihan untuk meningkatkan kekuatan otot, fleksibilitas, dan keseimbangan yang dapat membantu meningkatkan kepadatan tulang dan mencegah jatuh.

Pemberian modalitas fisik dapat membantu mengurangi gejala yang dikeluhkan penderita dan memperbaiki keterbatasan fungsi yang ada.  Misalnya menyediakan peralatan khusus, seperti: paralel bar di kamar mandi, alat bantu ambulasi (tongkat, walker, hingga kursi roda)

Apa yang dilakukan jika telah dilakukan pembedahan ..?

Apabila telah dilakukan pembedahan pada kasus fraktur hip dan beberapa fraktur lainnya, maka segera setelah proses pembedahan dilakukan tahapan rehabilitasi.

Rehabilitasi pasca pembedahan salah satunya berupa latihan mobilisasi dari baring ke duduk, duduk ke berdiri hingga berjalan dengan memakai alat bantu berjalan juga persiapan fungsi jantung dan paru yang baik untuk menyokong proses mobilisasi. Proses mobilisasi disupervisi oleh tim rehabilitasi medik (dokter rehabilitasi medik, perawat dan terapis).

Apakah ada komplikasi dari kejadian osteoporosis..?

Apabila kejadian osteoporosis pada penderita tidak segera diberikan penanganan maka dapat terjadi komplikasi, seperti:

  • Komplikasi penanganan dapat berhubungan dengan tatalaksana konservatif, fase penyembuhan, juga obat yang digunakan untuk mencegah atau mengobati osteoporosis.
  • Fraktur osteoporosis yang terjadi pada pasien usia lanjut akan mengakibatkan hilangnya fungsi kemandirian yang berat dan kebutuhan untuk perawatan jangka panjang.
  • Komplikasi setelah operasi dan tindakan anestesi seperti imobilisasi lama, pneumonia, infeksi saluran berkemih, konstipasi dan masalah pernapasan.

Selamat menjalani usia lanjut dengan penuh semangat.

SALAM SEHAT ...